Ketika itu suasana hari masih begitu gelap, udara
yang begitu dingin seakan menusuk tulang. Aku menatap dibalik jendela kamarku,
dan aku melihat sesosok bayangan yang
tak jelas arahnya, akupun memandangnya dengan lebih jelas lagi seakan aku
terbuat penasaran olehnya. Seorang laki-laki tua dengan peralatan menanam padinya
melangkahkan kakinya menuju ke ladang tempat
ia menanam padi, dengan tubuh yang agak rapuh dan sebagian warna rambut yang
agak memutih Silaki-laki tua itu dengan tulus melangkahkan kakinya. Seketika
itu tanpa kusadari aku meneteskan air mata. Sekilas aku terbayang dengan sosok
ayahku.
Ayahku adalah seorang
petani biasa, tiap hari beliau menghabiskan waktunya di sawah, apalagi jika
hama menyerang pada tanaman padi, pasti ayahku disibukkan dengan
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan itu, tak peduli cuacu yang begitu
panas atau dingin, tapi ayahku tetap konsisten dalam menjalani tugasnya, dan
beliau juga tak lupa dengan keluarganya,meski dalam keadaan yang begitu capek
tapi beliau masih tetap meluangkan waktunya kepada kita ketika kita belajar di malam
hari. Beliau bagaikan pahlawan bagi kita semua, jasanya yang begitu besar tak
dapat ditukar dengan sesuatu apapun.
Dan
akupun dikagetkan dengan suara ibuku yang berteriak memanggilku untuk mengajak
sarapan bersama, akupun tersadar kakek itu sudah hilang, dan mataharipun sudah
tersenyum menyapaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar