Kamis, 22 November 2012

DI BALIK JENDELA


            Ketika  itu suasana hari masih begitu gelap, udara yang begitu dingin seakan menusuk tulang. Aku menatap dibalik jendela kamarku, dan aku melihat sesosok  bayangan yang tak jelas arahnya, akupun memandangnya dengan lebih jelas lagi seakan aku terbuat penasaran olehnya. Seorang laki-laki tua dengan peralatan menanam padinya melangkahkan kakinya menuju ke ladang  tempat ia menanam padi, dengan tubuh yang agak rapuh dan sebagian warna rambut yang agak memutih Silaki-laki tua itu dengan tulus melangkahkan kakinya. Seketika itu tanpa kusadari aku meneteskan air mata. Sekilas aku terbayang dengan sosok ayahku.
Ayahku adalah seorang petani biasa, tiap hari beliau menghabiskan waktunya di sawah, apalagi jika hama menyerang pada tanaman padi, pasti ayahku disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan itu, tak peduli cuacu yang begitu panas atau dingin, tapi ayahku tetap konsisten dalam menjalani tugasnya, dan beliau juga tak lupa dengan keluarganya,meski dalam keadaan yang begitu capek tapi beliau masih tetap meluangkan waktunya kepada kita ketika kita belajar di malam hari. Beliau bagaikan pahlawan bagi kita semua, jasanya yang begitu besar tak dapat ditukar dengan sesuatu apapun.
            Dan akupun dikagetkan dengan suara ibuku yang berteriak memanggilku untuk mengajak sarapan bersama, akupun tersadar kakek itu sudah hilang, dan mataharipun sudah tersenyum menyapaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar