Minggu, 18 Oktober 2015

“MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM”



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Salah satu fungsi pendidikan dan kurikulum bagi masyarakat adalah menyiapkan peserta didik untuk hidup dikemudikan hari. Dikatakan bahwa bentuk paling sederhana dari kurikulum adalah merupakan himpunan pengalaman, sistem nilai, pengetahuan, keterampilan dan pola sikap yang ingin dihantarkan tersebut merupakan bekal peserta didik dalam mengembangkan diri di dalam masyarakat di kemudian hari.
            Dalam mengembangkan suatu kurikulum diperlukan adanya model- model untuk dijadikan landasan teoritis untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Model atau konstruksi merupakan ulasan teoritis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum, model merupakan ulasan teoritis tentang proses pengembangan kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula hanya merupakan ulasan tentang salah satu komponen kurikulum.
            Atas dasar inilah, maka kita sebagai calon pendidik harus mengetahui ada berapa macam model-model pengembangan kurikulum yang  diperlukan dalam mengembangkan suatu kurikulum serta bagaimana karakteristik yang ada disetiap model-model tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian model pengembangan kurikulum?
2.      Apa saja model – model pengembangan kurikulum dan bagaimana langkah-langkahnya?
C. Tujuan Penulisan
1.      Agar pembaca mengetahui pengertian model pengembangan kurikulum.
2.      Agar pembaca mengerti model-model pengembangan kurikulum beserta langkah-langkahnya




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Model-model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum mempunyai makna yang cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curruculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curruculum improvment). Sedangkan model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam betuk naratif, matematis, grafis serta lambang – lambang lainnya.[1]
Dari pengetian di atas dapat disimpulkan bahwa model pengembangan kurikulum adalah berbagai bentuk atau model yang nyata dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada.
Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan.
Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan dalam pendidikan.
      Dewasa ini telah banyak dikembangkan model-model pengembangan kurikulum. Setiap model pengembangan kurikulum tersebut memiliki karakteristik pada pola desain, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran. Dalam pengembangan kurikulum dapat diidentifikasi berdasarkan basis apa yang akan dicapai dalam kurikulum tersebut, seperti alternatif yang menekankan pada kebutuhan mata pelajaran, peserta didik, penguasaan kompetensi suatu pekerjaan, kebutuhan masyarakat atau permasalahan sosial. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum perlu dilakukan dengan berlandaskan pada teori yang tepat agar kurikulumyang dihasilkan bisa efektif.[2]
B. Model-model Pengembangan Kurikulum Beserta Langkah-langkahnya.
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistic, teknologis dan rekonstruksi sosial.[3]
Adapun model pengembangan kurikulum dalam pendidikan antara lain adalah:
1.      Model Ralph Tyler
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan Tyler (1949) diajukan berdasarkan pada beberapa pertanyaan yang mengarah pada langkah-langkah dalm pengembangan kurikulum. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
a.       Tujuan pendidikan apa yang harus dicapai oleh sekolah?
b.      Pengalaman-pengalaman pendidikan apakah yang semestinya diberikan untuk mencapai tujuan pendidikan?
c.       Bagaimanakah pengalaman-pengalaman pendidikan sebaiknya diorganisasikan?
d.      Bagaimanakah menentukan bahwa tujuan telah dicapai?
Oleh karena itu, menurut Tyler ada empat tahap yang harus dilakukan dalam pengembangan kurikulum, yang meliputi:
a.       Menentukan tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan merupakan arah atau sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan sebagai sumber dan penentuan tujuan pendidikan menurut Tyler, yaitu:
1)      Hakikat peserta didik
2)      Kehidupan masyarakat masa kini dan
3)      Pandanga para ahli bidang studi.
Ketiga aspek tersebut harus dipertimbangkan
b.      Menentukan proses pembelajaran yang harus dilakukan.
Salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam penentuan proses pembelajaran adalah persepsi dan latar belakang kemampuan peserta didik. Artinya, pengalaman yang sudah dimiliki siswa harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan proses pembelajaran selanjutnya.
c.       Menentukan organisasi pengalaman belajar.
Pengalaman belajar didalamnya mencangkup tahapan-tahapan belajar dan isi atau materi belajar.
d.      Menentukan evaluasi pembelajaran.
Menentukan jenis evaluasi apa yang cocok digunakan, merupakan kegiatan akhir dalam model Tyler. Jenis penilaian yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis dan sifat dari tujuan pendidikan atau pembelajaran, materi pembelajaran, dan proses belajar yang telah ditetapkan sebelumnya.[4]
Gambar:

2.      Model Administratif
Pengembangan kurikulum model ini disebut juga dengan istilah dari atas ke bawah (top down) atau staf lini (line-staff procedure), karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan (apakah dirjen, direktur, atau kepala kantor kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum. Anggota-anggota komisi atau tim ini terdiri atas, pejabat dibawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan.
Pengembangan kurikulum dilaksanakan sebagai berikut:
a.       Atasan membentuk tim yang terdiri atas para pejabat teras yang berwenang (pengawas pendidikan, kepsek, dan pengajar inti).
b.      Tim merencanakan konsep rumusan tujuan umum dan rumusan falsafah yang diikuti.
c.       Dibentuk beberapa kelompok kerja yang anggotanya terdiri atas para spesialis kurikulum dan staf pengajar yang bertugas untuk merumuskan tujuan khusus, GBPP, dan kegiatan belajar.
d.      Hasil kerja dari butir 3 direvisi oleh tim atas dasar pangalaman atau hasil dari try out.
e.       Setelah try out yang dilakukan oleh beberapa kepala sekolah, dan telah direvisi seperlunya, baru kurikulum tersebut diimplementasikan.[5]
Gambar:

3.      Model Grass Roots (Model Dari Bawah)
Pengembangan kurikulum model ini kebalikan dari model administratif. Model Grass Roots merupakan model pengembangan kurikulum yang diawali atau dimulai dari arus bawah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum model grass roots, diantarnya:
a.       Guru harus memiliki kemampuan yang professional.
b.      Guru harus terlibat penuh dalam perbaikan kurikulum, penyelesaian permasalahan kurikulum.
c.       Guru harus terlibat langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan, dan penentuan evaluasi.
d.      Seringnya pertemuan kelompok dalam pembahasan kurikulum yang akan berdampak terhadap pemahaman guru dan akan menghasilkan consensus tujuan, prinsip, maupun rencana-rencana.
Langkah-langkahnya:
a.       Inisiatif pengembangan datangnya dari bawah (para pengajar).
b.      Tim pengajar dari beberapa sekolah ditambah narasumber lain dari orang tua peserta didik atau masyarakat luas yang relevan.
c.       Pihak atasan memberikan bimbingan dan dorongan.
d.      Untuk pemantapan konsep pengembangan yang telah dirintisnya diadakan lokakarya untuk mencari input yang diperlukan.

4.      Model Beauchamp
Model ini dikembangkan oleh George A. Beauchamp (1931), seorang ahli kurikulum, proses pengembangan kurikulum meliputi lima tahap, yaitu:
a.       Menentukan arena atau wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum.
b.      Menentukan personalia. Ada empat kategori orang yang sebaiknya dilibatkan, yaitu:
1)      Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan ahli bidang studi.
2)      Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih.
3)      Para profesional dalam bidang pendidikan.
4)      Profesional lain dan tokoh masyarakat. Dalam penentuan keterlibatan orang-orang dalam pengembangan kurikulum, Beauchamp menyarankan tiga pertanyaan yang harus dijawab, yaitu:
a)      Haruskah ahli/pejabat/professional tersebut dilibatkan dalam pengembangan kurikulum?
b)      Bila ya, apa peran mereka?
c)      Apakah ada cara dan alat yang paling efektif untuk melaksanakan peran tersebut?
c.       Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum.
Kegiatan ini terdiri dari lima tahap, yaitu:
1)      Membentuk tim pengembangan kurikulum.
2)      Mengadakan penelitian dan penilaian terhadap kurikulumyang ada yang sedang berlaku.
3)      Studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
4)      Menentukan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru.
5)      Penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
d.      Implementasi kurikulum.
e.       Evaluasi kurikulum. Hal-hal penting dievaluasi yaitu:
1)   Pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru.
2)   Desain kurikulumnya.
3)   Hasil belajar siswa.
4)   Keseluruhan dan sistem kurikulum. Data yang terkumpul dari tahap evaluasi ini digunakan untuk bahan penyempurnaan kurikulum.







5.      Model Taba (Inverted Model)
Model ini dikembangkan oleh Hilda Taba atas dasar data induktif yang disebut model terbalik, karena biasanya pengembangan kurikulum didahului oleh konsep-konsep yang datangnya dari atas secara deduktif. Model ini merupakan modifikasi dari model Tyler. Modifikasi tersebut penekanannya terutama pada pemusatan perhatian pada guru. Taba memercayai bahwa guru merupakan faktor utama dalam usaha pengembangan kurikulum. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a.       Mengadakan unit-unit eksperimen bersama dengan guru-guru.
Dalm kegiatan ini perlu mempersiapkan:
1)      Perencanaan berdasarkan pada teori-teori yang kuat,
2)      Eksperimen harus dilakukan di dalam kelas agar menghasilkan data empirik dan teruji. Unit eksperimen ini harus dirancang melalui tahapan sebagai berikut:
a)      Mendiagnosis kebutuhan
b)      Merumuskan tujuan-tujuan khusus
c)      Memilih isi
d)     Mengorganisasi isi
e)      Memilih pengalaman belajar
f)       Mengorganisasi pengalaman belajar
g)      Mengevaluasi
h)      Melihat sekuens dan keseimbangan
b.      Menguji unit eksperimen.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat validitas dan kepraktisan sehingga dapat menghimpun data untuk penyempurnaan.
c.       Mengadakan revisi dan konsolidasi.
Perbaikan dan penyempurnaan dilakukan berdasarkan pada data yang dihimpun sebelumnya, selain itu juga dilakukan konsolidasi, yaitu penarikan kesimpulan pada hal-hal yang bersifat umum dan konsistensi teori yang digunakan.
d.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum.
e.       Implementasi dan desiminasi.
Yaitu menerapkan kurikulum baru pada daerah atau sekolah-sekolah yang lebih luas, dan dilakukan pendataan tentang kesulitan serta permasalahan yang dihadapi guru-guru di lapangan.
Gambar:

6.      Model Hubungan Interpersonal Dari Rogers
Kurikulum yang dikembangkan hendaknya dapat mengembangkan individu secara fleksibel terhadap perubahan-perubahan dengan cara melatih diri berkomunikasi secara interpersonal. Langkah-langkahnya:
a.       Diadakannya kelompok untuk dapatnya hubungan interpersonal ditempat yang tidak sibuk
b.       Kurang lebih dalam satu minggu para peserta mengadakan saling tukar pengalaman, dibawah pimpinan staff pengajar.
c.       Kemudian diadakan pertemuan dengan masyarakat yang lebih luas lagi dalam satu sekolah, sehingga hubungan interpersonal akan menjadi lebih sempurna.
d.      Selanjutnya pertemuan diadakan dengan mengikut sertakan anggot yang lebih luas lagi, yaitu dengan mengikut sertakan para pegawai administrasi daan orang tua peserta didik.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan penyusunan kurikulum akan lebih realistis, karena didasari oleh kenyataan yang diharapkan.
Gambar:

7.      Model Demonstrasi
Model demonstrasi ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup semua komponen kurikulum. Karena sifatnya ingin mengubah atau mengganti kurikulum yang ada. Langkah-langkahnya:
a.   Staff pengajar pada suatu sekolah menemukan suatu ide pengembangan dan ternyata hasilnya dinilai baik.
b. Kemudian hasilnya disebar luaskan di sekolah sekitar[6]
Gambar:
MODEL DEMONSTRASI
Staf pengejar menemukan ide
Hasilnya dinilai baik oleh pihak atasan
Hasilnya disebar luaskan di sekolah sekitar
 



















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
model pengembangan kurikulum adalah berbagai bentuk atau model yang nyata dalam penyusunan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada
model pengembangan kurikulum dalam pendidikan antara lain adalah:
1.   Model Ralph Tyler
2.   Model Administratif
3.   Model Grass Roots (Model Dari Bawah)
4.   Model Beauchamp
5.   Model Taba (Inverted Model)
6.   Model Hubungan Interpersonal Dari Rogers
7.   Model Demonstrasi

B.     SARAN
            Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini karena terbatasnya ilmu yang penulis miliki. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran para pembaca agar kiranya dapat mencurahkan pemikirannya demi tercapainya isi makalah yang lebih baik agar bisa menjadi referensi bagi kita semua.


[1] S. Rahayu Candra W. Model – Model Pengembangan kurikulum dan Fungsinya bagi Guru. (21/04/2012), (07.08 am), download.
[2] Toto Ruhimat, dkk, Kurikulum & Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pres, 2012), hal. 78.
[3] Nana Syaodi Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 161.
[4] Toto Ruhimat, Kurikulum & Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pres, 2012), hal. 79-81.
[5] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hal. 96.
[6] http://septianindi.blogspot.com/2013/05/model-model-pengembangan-kurikulum.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar